Jumaat, 15 Mei 2009

KRISTIAN ORTHODOX: SUATU KAJIAN PERBANDINGAN AGAMA


1.0 PENGENALAN

Apakah Gereja Orthodox? Sinonimnya Gereja Orthodox sebahagian besar dari kita akan mengambarkannya dengan kubah-kubah Gereja di Rusia atau paderi-paderi berjanggut panjang serta kebanyakan masyarakat yang pernah ke Kota Suci Jurusalem akan teringat akan ikon-ikon dan gereja gereja di sana. Bagi masyarakat umum, Gereja Orthodox sering dimenifestasikan sebagai sebuah ajaran purba. Kita di malaysia sinonimnya hanya mengenal dua bentuk Keristian yang kedua-duanya berasal dari wilayah barat iaitu Gereja Katolik Rom dan Gereja Protestan.


1.1 GEREJA ORTHODOX

Gereja Orthodox adalah Gereja Purba yang sejarahnya dari dahulu sampai kini. Ia juga di anggap berasal dari zaman para rasulnya Jesus Kristus sendiri. Gereja ini tidak pernah mengalami zaman Reformasi kerana ajarannya tetap kukuh dan asli tanpa berubah sedikit pun dari zaman para Rasul sehingga tidak ada yang perlu di reformasikan dalam ajaran. Ia juga tidak pula pernah mengalami zaman Kontra-Reformasi, kerana kewujudan kontradik pun tidak ada dalam ajarannya mahu pun dalam perjalanan sejarahnya.

Gereja Orthodox berkembang tanpa mengalami perubahan baik penambahan ataupun pengurangan dalam segi tauhid dan juga masih berpegang teguh semua Tradisi dan Pengajaran yang diturunkan oleh Para Rasul kepada Gereja. Kata “Orthodox” berasal dua kata dari bahasa Yunani: kata orthos yang berarti lurus dan juga diterjemahkan dengan kata: benar. Kata berikutnya adalah kata: doxa yang bererti pengajaran atau diterjemahkan sebagai: pendapat, dan boleh diertikan: kemuliaan. Jadi dalam bahasa Yunani secara hrafiah kata orthodox dapat diartikan sebagai: “ajaran yang lurus” atau “cara penyembahan yang benar”. Pada masa modern ini, Gereja Orthodox mempunyai berbagai-bagai versi Gereja. Di mana kesemua versi ini masih bersatu dalam satu pemahaman yang sama serta mengimani kepercayaan Orthodox dan Tradisinya yang sama, walaupun dalam masa yang sama s protokol gereja mereke berbeza-beza. Adapun versi-versi ini di kelsifikasikan sebagai berikut:

1. Tahkta Kepimpinan Apostolik Utama yang terdiri dari: Kepatriarkhan Konstantinopel yang berpusat di Turki, Kepatriarkhan Alexandria yang berpusat di Mesir, Kepatriarkhan Antiokhia yang berpusat di Suriah dan Kepatriarkhan Jurusalem yang berpusat di Israel.

2. Tahkta Kepimpinan Wilayah: Kepatriarkhan Rusia, Kepatriarkhan Serbia, Kepatriarkhan Romania, Kepatriarkhan Georgia, Kepatriarkhan Bulgaria

3. Gereja-Gereja Autochepalus, Gereja yang mendapatkan kemandirian secara sepenuh: Gereja Orthodox Yunani, Gereja Orthodox Polandia, Gereja Orthodox Polandia, Gereja Orthodox Albania, Gereja Orthodox Ceko dan Slovakia, Gereja Orthodox Siprus, dan Biara Agung St. Katarina dari Gunung Sinai. pemimpin dari gereja-gereja ini walaupun bukan merupakan Patriarkh, para pemimpin gereja-gereja ini (para Uskup Agung) mempunyai kedudukan istimewa dan sejajar dengan para Patriarkh.

4. Gereja-Gereja Otonomi, Gereja-Gereja ini diakui kemandiriannya namun belum mendapatkan kemandirian secara penuh dari Kepatriarkhan Konstantinopel. Gereja-gereja ini adalah: Gereja Orthodox di Finlandia, Gereja Orthodox di Jepang dan Gereja Orthodox di Cina.

5. Gereja Diaspora, walaupun mempunyai kemandirian secara kukuh, tetapi diberikan hak untuk memerintah secara mandiri, dan diakui oleh seluruh Gereja Orthodox. Gereja ini adalah Gereja Orthodox Amerika, yang membawahi seluruh benua Amerika, kepulauan Alaska dan Hawai.
(http://www.goindo.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1&Itemid=1)

Kelima-lima tubuh Gereja ini mempunyai sebuah persekutuan yang erat dan baik secara sakramental mahu pun dalam Tradisi Gereja serta Pengajaran kepercayaannya, hal ini menunjukkan penganut serta imamnya kesemuanya disatukan oleh kepercayaan yang sama serta bersatu padu antara kesemuannya. Gereja Orthodox memang terdiri dari berbagai versi, walaupun demikian pusat pemerintahan Gereja Orthodox tidak di tetapkan kepada satu wilayah atau satu kota dan satu pribadi sebagai pemimpin tetapi lebih kepada sidang serta persekutuan rohani dari seluruh pemimpin gereja-gereja di bawah bimbingan rohani dari Patriarkh Konstantinopel sebagai yang dianggap pertama di antara yang sejajar.


1.2 PERTUBUHAN ASAL GEREJA ORTHODOX BERLANDASKAN JESUS MENGIKUT KEPERCAYAAN KRISTIAN

Jesus (al-Masih) wafat disalibkan kemudian bangkit dari kematian seterusnya naik ke shurga dengan tubuh mulia yang telah dibangkitkan itu akhirnya masuk ke dalam kemuliaan Allah; Bapa yang Esa itu sendiri. Roh Allah yang juga disebut Roh Kudus yang berasal dari dalam Diri Allah yang Esa ini kemudian dikirimnya ke dunia, turun ke atas para Rasulnya Jesus. Dengan demikian lahirlah Gereja Kristian di bumi.

Bermula di sinilah terbentuknya "Gereja", iaitu kesatuan umat beriman yang disatukan oleh Roh Kudus dalam Iman yang satu serta diikat dalam tata-kehidupan yang sama dan berada dibawah kepemimpinan para Rasul dan para penggantinya Uskup. Hari Raya Pentakosta tahun 33 Masehi itu adalah hari lahir Gereja Orthodox. Jadi landasan Gereja Orthodox adalah Jesus sendiri. Kata Gereja itu berasal dari kata Yunani "Ekklesia" artinya "orang-orang yang dipanggil keluar", jadi kata itu tak menunjuk kepada bangunan yang terbuat dari batu. Gereja adalah Tubuh Mistik Kristian yang hadir di bumi dan Kristan adalah Kepala dan Batu Penjuru Gereja. Gereja terdiri dari umat beriman yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang keselamatan Allah di dalam Kristan. Bangunan gedung adalah tempat berkumpulnya "Gereja" ini.

Gereja Orthodox dengan kata lain, di zaman Purba disebut juga sebagai Gereja Katolik, bukan dalam erti "Roma" Katolik, namun dalam erti Gereja "Katolik (Rasuliah)", disamping juga disebut Gereja Kristian. Kata "Katolik" itu sendiri berasal dari bahasa Yunani "Katholiki" dari akar kata "kath' " ("menurut, sesuai dengan") dan " Olon" ("sepenuhnya dan seluruhnya). Artinya Gereja Kristian yang satu bersifat Rasuliah ini ajarannya sesuai dengan dan menurut apa yang diwahyukan Allah secara sepenuhnya, tanpa ada kekurangan apa-apa didalamnya yang disampaikan melalui Jesus dan disampaikan oleh para Rasul. Kata "Katolik" ini juga berarti bahwa Gereja Kristian yang asli dan Rasuliah ini di dalamnya merangkul manusia menurut keseluruhannya, rrtinya Gereja itu bersifat universal bagi segenap umat manusia, bukan hanya sebagian etnik atau bangsa tertentu. (http://www.goindo.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1&Itemid=1)

1.3 PERKEMBANGAN GEREJA ORTHODOX DI ZAMAN PURBA

Gereja Orthodox yang lahir di bumi Timur (Asia Barat: Jurusalem) ini dan berkembang sampai ke seluruh Timur Tengah, India, Cina, Jepun, Korea dan bahkan pada abad ke tujuh sampai ke Indonesia (yaitu di Pancur dan Barus di Sumatra pada jaman Sri Wijaya, dan juga di Jawa pada jaman Majapahit) ini, juga berkembang ke bumi Barat yang pusatnya saat itu berada di kota Roma, Itali.

Sejak mula Gereja memiliki 4 kepimpinan purba iaitu di Antiochia (Syria) yang di dirikan oleh Rasul Petrus, Constantinopel (Turkey) yang didirikan Rasul Andreas, Alexandria (Egypt) yang didirikan oleh Rasul Markus dan di Jerusalem didirikan oleh Rasul Yakobus. Lalu berkembang pesat hingga ke Barat (Roma) oleh Rasul Petrus & Paulus hingga sampai ke Timur Jauh,Kerala (India) yang dipimpin oleh Rasul Thomas. Mereka semua bersatu dalam satu kesatuan cinta kasih Gereja yang Satu, Kudus, Katholik dan Apostolik hingga saat ini. (http://profiles.friendster.com/66540042)

Pada tahun 312 Masehi kaum beriman dari Gereja Orthodox ini mengalami penginayaan yang kejam. Pertama dari kalangan para pemimpin Agama Yahudi, kemudian dari para tentera Rom. Mereka dibakar, di humban dengan singa lapar, dijadikan lampu taman pada malam hari dan lain-lain.

Penganiayaan itu berhenti dengan pengambil alihan tentera Konstantin Agung. Konstantin memutuskan untuk menjadikan kepercayaan Kristian sebagai agama negara, dan pada tahun 313 masehi mengeluarkan suatu surat keputusan yang disebut Dekrit Milano, yang isinya melarang segala bentuk aniaya terhadap para pengikut Kristian dan Gereja. Buku-buku dan apa saja yang pernah dirampas dari umat Kristian Orthodox purba ini harus dikembalikan kepada para pemiliknya.

Konstantin memutuskan untuk memindah ibu kota Kerajaannya dari Rom ketika di wilayah barat Eropah ke wilayah timur, dimana ia membangun ibu kota baru yang disebutnya sebagai Konstantinopel (sekarang: Istanbul, Turki dan sebagai "Rom Baru" (Nea Romee). Sejak dibangunnya Konstantinopel ini, maka Kerajaan Romawi ini memiliki dua bahagian wilayah: di Barat berpusat di Roma, dan di Timur berpusat di Konstantinopel. Kerajaan Romawi Timur ini akhirnya berkembang menjadi Kerajaan Byzantium. Demikian juga penghayatan Kristian Orthodox yang satu itu juga mengalami perkembangan bentuk iaitu bentuk Kristian Barat yang berpusat di Roma, dan satu agi bahagia Kristian Timur yang berpusat di Konstantinopel, Alexandria (Mesir), Antiokhia (Syria) dan Jurusalem (Israel, Palestin).
(http://www.goindo.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1&Itemid=1)

1.4 PERBEZAAN ANTARA GEREJA ORTHODOX TIMUR DAN GEREJA ORTHODOX ORIENTAL.

Perbezaan Gereja Orthodox Timur atau dan Gereja Orthodox Oriental adalah yang pertama Rumusan Kristian secara substansi sama maknanya, namun terminologi yang digunakan berbeza. Dalam Gereja Orthodox Timur rumusannya: Jesus itu memiliki "Satu Pribadi" dalam "Dua Kudrat ", sedangkan dalam Gereja Orthodox Oriental rumusannya: Jesus itu memiliki "Satu Kudrat" yang "Berasal dari Dua Kudrat". Perbezaan kedua, Jumlah Muktamar Ekumenis yang di perakui: Gereja Orthodox Timur mengakui Tujuh Muktamar Ekumenis, Gereja Orthodox Oriental hanya mengakui Tiga Muktamar yang pertama.

Perbezaan seterusnya, Orang-orang Suci yang diakui: Gereja Orthodox Timur mengakui Bapa Suci Leo dari Rom yang tulisannya berperanan dalam Konsili Khalsedon tahun 451M itu sebagai orang suci, sedangkan Gereja Orthodox Oriental menolaknya. Gereja Orthodox Oriental mengakui Pemimpin Dioskoros dari Alexandria dan Severus dari Antiokhia sebagai orang-orang suci, sedangkan Gereja Orthodox Timur menolaknya. Selebihnya secara theologi dan praktialnya tidak ada perbezannya antara kedua keluarga Gereja Orthodox ini. Namun secara administratif kedua keluarga Gereja Orthodox ini masih terpisah dan belum dalam satu kesatuan (Perjamuan Kudus). Namun perbincangan dua hala ke arah kesatuan setelah perpisahan selama 1500 tahun ini tetap dilakukan. (http://www.orthodoxunity.org/article09.html)

2.0 SEJARAH PENUBUHAN GEREJA ORTODOKS DI MALAYSIA

Gereja Ortodoks Syria di Malaysia bersama dengan gereja Selatan India, Singapura dan Australia terletak di bawah Diosis Madras.


2.1 PERTUBUHAN KOMUNITI KRISTIAN ORTODOKS DI MALAYSIA

Dengan berakhirnya Perang Dunia Pertama kira-kira pada tahun 1918,satu lembaran baru dibuka untuk Kristian Syria yang berpendidikan. Orang-orang muda pada masa itu bersemangat untuk mencari satu kawasan yang baru di sebalik sempadan kampong mereka. Oleh yang demikian, mereka mengembara sehingga ke bahagian India yang lain, Timur Tengah, Afrika, England, dan juga Amerika. Ada juga sesetengah daripada mereka yang merentasi Lautan India untuk ke Tanah Melayu dan Singapura. Di wilayah ini, mereka mencari pekerjaan di ladang-ladang getah, kawasan perlombongan bijih timah, dan juga di jabatan kerajaan. Sesetengahnye di kumpulkan di sekitar Kuala Lumpur sementara yang lainnya di letakkan di kawasan perlombongan dan ladang di dalam negara.

Pada akhir tahun 1920, terdapat satu jumlah penganut lelaki dan wanita yang banyak di sekitar Kuala Lumpur. Kumpulan ini sering berkumpul pada hari Ahad untuk bersembahyang pagi di YMCA di bawah pimpinan Mr P K Mathew.Pada tahun 1932, kumpulan ini telah didaftarkan sebagai Persatuan Kristian Syria di bawah Kumpulan Berdafatar, Tanah Melayu. (http://www.mymalankara.com/Photogallery.htm)

2.1.1 Lawatan paderi pertama

Oleh kerana penganut yang menyertai komuiti semakin bertambah daripada Kerala, ia sudah cukup untuk mengumpulkan sumber kewangan bagi membawa paderi daripada Kerala untuk memimpin mereka. Pada 1928, Rev, Fr Alexious melawat Tanah Melayu dan mengembara dari Utara Kedah hinggalah ke Selatan Singapura untuk memimpin ‘Holy Quarbana’ dan juga upacara agama yang lain . Beliau juga sempat melawat Pulau Jawa da Sumatera. Fr Alexious kemudiannya ditahbiskan sebagai His Grace Mar Theodosius, Metropoliotan of Quilon dan misinya luar daripada Kerala.


2.1.2 Jawatan paderi pertama

Selain daripada sembahyang pagi Ahad, Persatuan Jacobi Syria ini juga mempunyai perhimpunan tahunan bagi anggota-anggotanya sepanjang hujung minggu Easter. Pada 1936, rumah gereja telah menghantar Rev.Fr T I Joseph,MA, BD, sebagai paderi di Tanah Melayu, melalui inisiatif-inisiatif yang dilakukan oleh Mr K O Koshy iaitu Pengetua Sekolah Inggeris Jalan Bricfield. Rev Fr Joseph pulang semula ke kediamannya pada tahun 1939. Dengan permulaan Perang Dunia Kedua, selama 10 tahun tiada paderi untuk memimpim mereka. Ahli-ahli komuniti terus mengendalikan upacara sembahyang dengan bantuan ketua mereka.

2.2 BANGUNAN-BANGUNAN GEREJA

Pada penghujung Perang Dunia Kedua (1945) memperlihatkan kemasukan lebih banyak ahli berikutan peluang pekerjaan yang diwujudkan oleh pemulihan pertanian, perlombongan dan aktivit-aktiviti perniagaan di rantau ini. Pada tahun 1949, Rev Fr P K Abraham,BA, BD, LT, telah dihantar untuk mengambil alih kerja-kerja kerohanian sebagai satu respon untuk rayuan yang berterusan kepada Rumah Gereja. Keadaan menjadi lebih tertekan berikutan keperluan komuniti untuk memiliki tempat penyembahan. Satu permohonan telah diserahkan kepada Kerajaan Negeri Selangor untuk sebidang tanah. P K Mathew, T N Koshy dan K G Ninan merupakan pegawai-pegawai utama Persatuan Kristian Syria.

Yang Mulia Sultan Selangor telah memperkenankan permintaan komuniti ini dan telah menganugerahkan tanah di Brickfields bagi komuniti untuk membina gereja. Rev Fr K A Gorge, BA, BD, yang tiba pada April 1953, tidak meletakkan apa-apa usaha dalam mengumpul dana bagi membina gereja. Melalui kurniaan Yang Maha Kuasa yang menyediakan bantuan dan derma melalui ahli-ahlinya maka tertubuhlah gereja yang dinanti-nantikan oleh penganut agama Kristian Ortodoks ini. Rev Fr K A George memimpin perkhidmatan ‘Holy Quarbana’ yang pertama kalinya pada 5 Ogos 1956. Gereja di Malaysia yang mengabdikan nama St Mary merupakan Gereja Ortodoks Syria yang pertama yang didirikan di luar daripada India. Hari ‘Parish’ atau ‘pally perunal’ diadakan pada hari Ahad selepas keraian Shoonoyo, bagi memperingati St Mary. (http://www.mymalankara.com/Photogallery.htm)

2.3 PERTUMBUHAN

Penghijrahan terakhir ahlinya ke Tanah Melayu ialah pada tahun 1953. Keanggotaan bagi penganut agama ini berada di kemuncaknya pada tahun 1960, di mana mereka mempunyai tiga orang paderi. Singapura telah dipisahkan sebagai sebuah negara yang merdeka pada tahun 1965 dan sehubungan dengan itu, gereja-gereja di Malaysia dan Singapura dipisahkan di bawah Diosis Madras.

Tanah Melayu memperolehi kemerdekaan pada 31 Ogos 1957. Dasar kerajaan menyebabkan sukar untuk mereka yang bukan warganegara untuk diambil bekerja tanpa permit. Situasi ini menyebabkan pengeluaran ahlinya pada tahun 70an. Selepas tahun 1980, terdapat banyak perubahan dalam bilangan dan taburan penganut-penganut agama ini. Sesetengah ahli yang sudah tua pulang semula ke India berikutan persaraan mereka.

Tren-tren ini telah menyebabkan sebilangan besar ahli-ahli tertumpu di sekitar Lembah Klang dan bergerak meninggalkan ladang getah dan kelapa sawit. Walaubagaimana pun, penganut agama ini masih lagi mempunyai ahli di seluruh negeri dan perkhidmatan gereja di ketuai oleh paderi bagi setiap tempat. Oleh yang demikian, keperluan bagi gereja adalah sekurang-kurangnya dua orang paderi, iaitu paderi daripada Malaysia dan seorang lagi yang dihantar oleh Bishop di Madras.

2.3.1 Perjalanan seterusnya.

Pada masa kini, Gereja di Malaysia mempunyai keahlian sebanyak 193 keluarga. Sarung kepimpinan dalam gereja telah diberikan kepada generasi baru yang pada asasnya mempunyai ciri-ciri Malaysia pada rupa luaran dan juga pembawakan diri yang mana juga membawa warisan tradisi dan juga kepercayaan daripada generasi yang sebelumnya. Generasi ini berkhidmat sebagai satu jambatan penting antara masa lampau danjuga masa depan. Sehubungan dengan perubahan zaman, ahli-ahli persatuan menghadapi satu tugas yang penting iaitu untuk membina kepercayaan yang telah mempertahankan nenek moyang mereka sepanjang berabad lamanya relevan kepada cabaran dan kebudayaan pada masa kini .

Walaupun mereka merupakan masyarakat minoriti, mereka telah menyertai dan menyumbang ke arah seorang saksi gereja yang berkesan di dalam negara dan juga rantau. Sebagai seorang Kristian Orthodoks , mereka menganggap mereka adalah dipanggil untuk member I satu kehidupan dan bakat untuk mengangkat dan mentransformasikan komuniti ditempat yang telah diletakkan oleh Tuhan.

2.4 SILVER PERAYAAN JUBLI

Pada hari Sabtu, 12 Disember 1981, mukim gereja meraikan sambutan Jubli Perak yang diketuai oleh Diocesian Metropolitan , Yang Mulia Zachariah mar Dionysius.Pada hari berikutnya, ‘Holy Communion’ telah disambut bersama sebagai satu trimass oleh H G Zakariah Mar Dionysius, Rev Dr V C Samuel daripada Kolej Teologi, Bangalore dan Vicar Rev Fr Abraham Marett.Satu cenderamata jubli perak majalah telah dicetak untuk menandai peristiwa.


2.5 MARTHA MARIAM SAMAJAM

Ahli-ahli persatuan wanita menganjurkan upacara sembahyang dan juga terlibat dalam kerja-kerja sosial. Pada tahun 1996, Samajam mencetak buku resipi bagi masakan tradisional Syria sebagai satu warisan yang penting untuk diwarisi oleh anak muda.

2.6 KEAHLIAN MUDA

Selain daripada aktiviti-aktiviti gereja, mereka juga ada melakukan aktiviti seperti program bersama dengan gereja di Singapura bagi mengadakan Perkhemahan Belia Ortodoks. Perkhemahan pertama adalah pada 1971. PErkhemahan-perkhemahan ini mengingatkan peristiwa-peristiwa penting bagi anak-anak muda bagi memperolehi kepercayaan mereka.

2.7 PENGKORDINATAN SAMI-SAMI RAKYAT MALAYSIA

Pada 6 Mei 1984, Rev Fr Philip Thomas telah ditahbiskan sebagai Paderi Ortodoks Malaysia oleh Yang Mulia Thomas Mar Thimotheos, Metropolitan di Malabar Diocese, pada permulaan pengordinatan perkhidmatan orthodoks di Malaysia. Pada tahun 1987, lseorang lagi rakyat Malaysia iaitu Rev Fr Abraham Oommen telah ditahbiskan sebagai paderi di Parumala, Kerala oleh Yang Mulia Joseph Mar Pachomius, Metropolitan di Kandanad Diocese. Rev Fr Abraham Oommen pada masa ini berkhidmat sebagai Vicar di St Thomas Orthodox Syrian Cathedral di Singapura. (http://www.mymalankara.com/Photogallery.htm)


3.O AMALAN-AMALAN ORTHODOX

3.1 BUNYI "PENGAKUAN IMAN NIKEA"

1. Aku percaya pada satu Tuhan, Sang Bapa, Yang Maha Kuasa, Pencipta Langit dan Bumi, dan Segala Sesuatu yang Kelihatan mahupun sebaliknya.

2.Dan kepada Satu Tuhan, Yesus, Anak Tunggal Tuhan, yang diperanakkan dari Sang Bapa sebelum segala zaman. Terang yang keluar dari Terang; Allah Sejati yang keluar dari Allah sejati; Yang Diperanakkan dan bukan diciptakan, satu Dzat Hakikat dengan Sang Bapa; yang melaluinya segala sesuatu diciptakan.

3. Yang untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita, telah turun dari Shurga, dan menjelma Roh Kudus dan dari Maryam serta menjadi Manusia.

4.Telah disalibkan bagi keselamatan kita dibawah pemerintahan Pontius Pilatus, Dia menderita sengsara dan dikuburkan.

5.Dan telah bangkit lagi pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci.

6.Dan telah naik ke Shurga, serta duduk disebelah kanan Sang Bapa.

7.Serta Dia akan datang lagi dalam kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup maupun orang mati, yang Kerajaanya tidak ada akhirnya.

8.Dan aku percaya pada Roh Kudus, Tuhan Pemberi Hidup, yang keluar dari Bapa, yang bersama dengan Bapa dan Putra disembah dan dimuliakan, yang berbicara melalui para Nabi.

9.Aku percaya pada Gereja Yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.

10.Aku mengakui Satu Baptisan bagi Pengampunan dosa-dosa

11.Aku menunggu akan kebangkitan Orang-Orang mati .

12. Serta Kehidupan Zaman yang akan datang.

(http://www.goindo.org/index.php?option=com_frontpage&Itemid=1)


3.1.2 BENTUK TEMA PENGAKUAN IMAN

Rumusan ini disebut Pengakuan kerana berbentuk suatu pernyataan "Aku" dan disebut Pengakuan Iman kerana perkataan "Aku" ini menyatakan "Percaya" (Beriman). Dalam Bahas Arab disebut "Syahadah" dari kata "Asyhadu" artinya "Aku mengaku" atau "Aku Bersaksi". Dan orang yang bersaksi atau mengaku ini disebut "Syahid".

Bentuk dari Pengakuan Iman ini dapat kita katakan sebagai bentuk pengakuan yang berpolakan Tritunggal, iaitu: perenggan pertama, mengenai Tuhan, Bapa dan Karyanya; perenggan ke dua hingga ke tujuh mengenai Jesus (Firman Tuhan) dan Karyanya, perenggan lapan hingga dua belas mengenai Roh Kudus (Roh Tuhan) dan Karyanya. Dengan Pengakuan Iman ini adalah Pengakuan kepada tuhan Yang Esa (Bapa), Firmannya yang kekal (Anaknya), dan Rohnya sendiri yang berada di dalam Diri Tuhan ( Roh Kudus). Keyakinan kepada Tritunggal Maha Kudus (Tuhan Yang Esa yang memiliki Firman dan Roh Yang Kekal) itu menjadi kesimpulan dari semua aqidah Iman Kristian.

Mengikut kedua belas bait Syahadah atau Pengakuan Iman ini, peenggan mengenai Jesus jauh lebih banyak dibanding dengan perkara yang lain, iaitu ada enam perkara (dari perenggan ke dua hingga ke tujuh), disusuli pua perkara-perkara mengenai Roh Kudus iaitu lima perenggan (dari perenggan lapan hingga dua belas). Ini menunjukkan keutamaan Jesus dalam Iman Kristian, dan pentingnya Roh Kudus dalam pengalaman kehidupan Kristian. Dikatakan pengalaman, karena karya Roh Kudus bertalian langsung dengan eksistensi Kristen yaitu: Sakramen (Baptis), Gereja dan Kebangkitan serta kehidupan kekal.

Gambaran Jesus secara mencerminkan manusia diselamatkan sebagai Turun dari Shurga, Menjelma, Disalibkan, Dikuburkan, Bangkit, Naik ke Shurga dan Datang untuk kali yang ke dua.

Namun dalam Roh Kuduslah keselamatan yang bersifat histori (dibawah pemerintahan Pontius Pilatus) dan realiti (telah turun, telah disalibkan, telah bangkit, telah naik ke shurga) itu menjadi pengalaman subjektif manusia melalui penyatuan dengan kematian dan kebangkitan Jesus dalam Baptisan serta menghayati makna kehidupan baru itu di dalam Gereja. Sehingga Roh Kudus yang sama iaitu manusia percaya tritunggal dengan kehidupan kebangkitan Jesus (kebangkitan orang-orang mati) untuk akhirnya masuk dalam kehidupan Tuhan yang dinyatakan dalam langit baru dan bumi baru (Kehidupan zaman yang akan datang). (http://www.goindo.org/index.php?option=com_frontpage&Itemid=1)


3.2 KITAB SUCI DALAM GEREJA ORTHODOX

Gereja Orthodox mempunyai Perjanjian Baru yang sama sebagaimana Dunia Kristian yang lain. Sebagai teksnya yang berwibawa untuk Perjanjian Lama, Gereja Orthodox menggunakan terjemahan Yunani Purba yang dikenali sebagai Septuaginta. Ini berbeza dari Bahasa Ibrani yang asli, umat Orthodox percaya bahawa perubahan bacaan dalam Septuaginta dibuat di dalam ilham lahir dari Roh Kudus dan diterima sebagai bahagian dari wahyu Tuhan yang terus berkesinambungan. Satu contoh yang terbaik adalah Yesaya 7:14 –dimana Bahasa Ibraninya berbunyi: “seorang wanita muda akan mengandung dan melahirkan seorang anak” yang Septuaginta menterjemahkan “seorang perempuan dara akan mengandung…”. Perjanjian Baru mengikuti teks Septuaginta.

Bentuk asli Ibrani dari Perjanjian Lama mengandung tiga puluh sembilan buku. Septuaginta mengandung di dalamnya sepuluh buku lebih lebih, yang tidak ada dalam kitab Ibrani. Kitab-kitab ini dinyatakan oleh Konsili-konsili Jassy (1642) dan Jurusalem (1672) sebagai “bahagian yang sah dari Kitab Suci”; namun demikian beberapa dari sarjana Orthodox pada masa modern menganggap bahwa Kitab-kitab ini meskipun sebahagian dari Al-kitab, berada di bawah tingkat yang rendah daripada Perjanjian Lama yang berbahasa Ibrani, tetapi secara kanonikal sah kitab-kitab ini adalah firman Tuhan yang berwibawa sama dengan kitab-kitab lainnya dalam kanun Ibrani, hal ini juga dinyatakan oleh para Bapa Gereja.

3.2.1 AL-KITAB DAN IBADAH GEREJA

Kadang kala orang menganggap Gereja Orthodox memberikan kurang perhatian penting kepada Al-kitab jikalau dibandingkan dengan orang-orang Kristen Barat. Namun pada realitinya Al-kitab dibaca terus menerusi di dalam amalan-amalan ibadah Orthodox pada waktu Ibadat pagi dan Senja pada setiap Minggu . Manakala ketika Masa Puasa Pra-Paskah dua kali dalam seminggu yang akan di jalankan juga Pembacaan-pembacaan Perjanjian Lama yang dilakukan waktu Ibadat Senja dan petang. Pembacaan Injil merupakan kemuncak dari Ibadat Pagi pada hari Minggu dan pesta-pesta gereja. Bacaan Kitab-Kitab Epistel dari para rasul dan Injil tertentu ditetapkan bagi setiap hari selama setahun, sehingga seluruh Perjanjian Baru (kecuali Kitab Wahyu) dibaca pada ibadah Perjamuan Kudus. Doa Simeon (Lukas 2;29-32) dibaca pada setiap Sembahyang Senja, dengan disertakan ayat-ayat Perjanjian Lama, dengan Doa Bunda Maria (“Jiwaku memuliakan Tuhan”) (Lukas 1:46-56) dan Doa Zakharia (“Terpujilah Tuhan”, Lukas 1:68-79) dan di nyanyikan pada setiap Sembahyang Fajar. Di samping kutipan-kutipan khusus dari Al-kitab ini, seluruh teks dari masing-masing ibadah dipenuhi dengan bahasa-bahasa Al-kitab dan telah dikira bahawa Karya Suci saja mengandung sembilan puluh lapan kutipan dari Perjanjian Lama dan seratus empat belas dari Perjanjian Baru.

Iman Kristian Orthodox menganggap Al-kitab sebagai suatu ikon verbal dari Jesus. Konsili Ekumenis yang ke tujuh menetapkan Ikon-ikon Kudus dan buku-buku Injil harus dihormati dangan cara yang sama. Di setiap Gereja, Kitab Injil mempunyai tempat yang mulia dan di arak dalam proses Karya Suci ketika Ibadat Pagi pada hari hujung Minggu. Orang beriman menciumnya dan menundukkan dirinya di depannya. Ini adalah penghormatan yang ditunjukkan di dalam Gereja Orthodox atas firman Tuhan. (http://www.orthodoxindonesia.org/introduction_to_orthodox.aspx)


3.3 SEMBAHYANG RAHIB DAN UMATNYA

Pola kehidupan ibadah sehari-hari itu sama dengan pola kehidupan yang seharusnya dijalankan oleh umat juga, dilandasi oleh sabda Kitab Suci :" Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau “(Mazmur 119:164) . Dan Sembahyang Tujuh Kali sehari ini dalam praktiknya diatur sebagai berikut: 1) Sembahyang RatriMadya (Tengah Malam), 2) Sembahyang Fajar (Matins) digabung dengan 3) Sembahyang Jam Pertama, ; 4) Sembahyang Jam Ketiga dan Keenam; 5) Sembahyang Jam Kesembilan; 6) Sembahyang Senja (Vespers) dan 7) Sembahyang Purna-Bujana. Lingkaran Ibadah Harian ini disebut sebagai “Lauds” dalam bahasa Latin yang artinya “Pujian”. Karena semuanya melambangkan karya penebusan dari Jesus bagi manusia, dan juga melambangkan beberapa macam peristiwa dalam kehidupan Beliau dan juga kehidupan para Rasulnya serta kehidupan Gereja. Dalam lingkaran ibadah ini dilaksanakan sebagai berikut:

1) Sembahyang Ratri Madya dilakukan pada ketika waktu tengah malam dan ini merupakan peringatan akan Kebangkitan Jesus yang terjadi pada saat “pagi dinihari” dan juga peringatan akan Kedatangan Jesus yang kedua kali, yang mana tiada siapa pun mengetahui. (Markus 13:33, 35).

2) Sembahyang Ratri Madya ini diikuti Sembahyang Fajar (Matins) yang berakhir sampai fajar terbit, mengammbarkan terbitnya keselamatan kita, iaitu ketika Jesus dilahirkan.

3) Sembahyang Jam Pertama kemudian dilakukan, memuji Tuhan atas permulaan hari yang baru yang kita mempersembahkannya kepada Tuhan.

4) Sembahyang Jam Ketiga dan Keenam dilakukan sebelum Litugi Suci. Pada Jam Ketiga ( 9 pagi) pembunuhan atas Jesus sedang direncanakan, tetapi juga ini meripakan ketika Roh Kudus turun di Hari Pentakosta kepada para Rasul ( Kisah 2: 1-4,15). Manakala Sembahyang Jam Keenam ( jam 12 tengah hari) memperingati Sengsara dan Penyaliban Jesus. Jikalau tidak ada pelaksanaan Liturgi Suci, maka Ibadah Tipika dilakukan, suatu ibadah yang bentuknya merupakan kerangka dari Liturgi Suci.

5 & 6) Pada hari Sembahyang Jam Kesembilan ( jam 3 petang) dilaksanakan. Sembahyang ini mengingatkan kita akan Penyaliban Jesus ( Matius 27:45-46) dimana beliau menyerahkan hidupnya bagi penebusan dunia. kemudian Ibadah ini dilanjutkan dengan Sembahyang Senja ( Vespers) yang melambangkan Jesus terbenam, ke dalam kematian sebagaimana matahari terbenam saat ibadah dilakukan, iaitu melambangkan penguburan Jesus. Isi dari Sembahyang Senja ini mengingatkan akan penciptaan dunia dengan dibacanya Mazmur 104, akan kejatuhan manusia dalam dosa, dengan tidak dinyalakan lampu Gereja kecuali alat penerangan untuk membaca sehingga ruangan Gereja kelihatan dan akan kasih Allah di dunia, serta akan pengusiran manusia dari Shurga dengan dinyanyikannya Mazmur 141 “ (“ Ya Tuhan ku berseru…”).

7) Sebelum tidur pada pagi hari, Sembahyang Purna Bujana dilakukan, yang melambangkan keikut-sertaan kita dalam kematian Jesus yang dilambangkan dengan tidur yang akan kita lakukan. Isi ibadah ini adalah ucapan syukur atas datangnya malam
Untuk berehat yang diberikannya, serta mengingatkan kita akan kematian yang kita harus selalu berjaga-jaga. Ini diikuti dengan Doa pagi Hari. (http://www.goindo.org/index.php?option=com_frontpage&Itemid=1)


4.0 PENUTUP

Kesimpulannya dapat di pastikan bahawa jelas kepada kita kedatangan ajaran orthodox di malaysia ini dengan buktinya kewujudan tempat peribadatan Kristian Orthodox atau dalam kata lain gereja. Dapat juga mengetahui bahawa ajaran Orthodox ini berbeza dengan ajaran Kristian dari Barat khususnya.

Selain itu, ajaran Orthodox ini juga berasal dari Timur yang terdapat dalam sejarah kemunculan Orthodox ini. Dapar di kenal pasti bahawa Orthodox ini juga mempunyai penganutnya yang tersendiri di Malaysia.

Akhir sekali, perkembangan Kristian Orthodox di malaysia sangat tidak berkembang kerana mereka berpaksikan bukan untuk mengkristianisasikan orang lain agar menjadi pengikut mereka, tetapi mereka mengamalkan sendiri. Oleh itu, jelas sedikit sebanyak pergerakan ini berada di mana, aktiviti mereka serta perkembangan sehingga ke hari ini.


BIBLIOGRAFI

Andrew Louth, 1981, The Origins Of The Christian Mystical Tradition, Oxford University Press: New York.

Ghazali Ahmad, 1994, Kristianisasi Sebagai Sebuah Gerakan Satu Tinjauan Sosiologi, Budaya Ilmu Sdn. Bhd.: Selangor.

Muda @ Ismail Abd. Rahman, 2006, Gerakan Agama Kristian Di Malaysia, Percetakan Yayasan Islam Terengganu Sdn. Bhd.: Terengganu.

The 50th Anniversary Of St. Marys Orthodox Syrian Cathedral, 2006, Kuala Lumpur: Wong Brothers Engineering Sdn. Bhd.

(http://www.goindo.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1&Itemid=1)

(http://www.orthodoxunity.org/article09.html)

(http://www.mymalankara.com/Photogallery.htm)

(http://www.orthodoxindonesia.org/introduction_to_orthodox.aspx)

Tiada ulasan: